| 1 comments ]

Kata Kunci : Implementasi, Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan dan membawa manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat. Dalam memberikan respon terhadap hal tersebut, perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki. Sarana yang paling strategis bagi peningkatan Sumber Daya Manusia adalah pendidikan. Kekurangberhasilan upaya peningkatan kualitas pendidikan antara lain karena strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input-oriented dan pengelolaan pendidikan yang sentralistik dan macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Atas dasar itu sekolah perlu diberikan kepercayaan dan wewenang serta kesempatan untuk mengelola sendiri sesuai dengan kondisi obyektif di dalamnya dan sejalan dengan kebijaksanaan Pemerintah mengenai pendidikan
nasional dan desentralisasi, yaitu dengan menerapkan dan mengembangkan model manajemen yang disebut “School Based Management” atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Berdasarkan hasil observasi, permasalahan pelaksanaan MBS di SLTP N 2 klaten adalah kurangnya dana, sarana dan prasarana pendidikan dan kualitas SDM.
Dari permasalahan dapat dirumuskan masalah: 1) bagaimanakah pelaksanaan manajemen kurikulum dan program pengajaran, 2) bagaimanakah pelaksanaan manajemen siswa, 3) bagaimanakah pelaksanaan manajemen ketenagaan, 4) bagaimanakah pelaksanaan manajemen sarana dan prasarana pendidikan, 5) bagaimanakah pelaksanaan manajemen anggaran/biaya, 6) bagaimanakah pelaksanaan manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat, 7) bagaimanakah pelaksanaan manajemen layanan khusus dalam implementasi Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS) di SLTP Negeri 2 Klaten.
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) bagaimanakah pelaksanaan manajemen kurikulum dan program pengajaran, 2) bagaimanakah pelaksanaan manajemen siswa, 3) bagaimanakah pelaksanaan manajemen ketenagaan, 4) bagaimanakah pelaksanaan manajemen sarana dan prasarana pendidikan, 5) bagaimanakah pelaksanaan manajemen anggaran/biaya, 6) bagaimanakah pelaksanaan manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat, 7) bagaimanakah pelaksanaan manajemen layanan khusus dalam implementasi
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SLTP Negeri 2 Klaten.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Populasi yang digunakan semua guru SLTP di kecamatan Klaten Tengah yang berjumlah 150 orang guru. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik random sampling. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah angket sebagai metode utama dan observasi, wawancara serta dokumen sebagai metode pelengkap. Ujicoba dilakukan diluar sampel untuk mengetahui kesahihan (valid) dan
keterandalan (reliabel) alat pengukur. Hasil uji coba dianalisis menggunakan analisis
butir dengan menggunakan rumus korelasi product-moment, pengujian reliabilitas menggunakan rumus Alpha. Instrumen yang dipakai untuk penelitian berjumlah 60, dengan reliabilitas angket 0,975 dengan taraf signifikasi 5%. Hasil penelitian dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif persentase.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen kurikulum dan program pengajaran baik, manajemen siswa baik, manajemen ketenagaan cukup, manajemen sarana dan prasarana pendidikan baik, manajemen anggaran/biaya baik, manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat baik, manajemen layanan khusus baik. Jadi secara keseluruhan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di SLTP Negeri 2 Klaten dikategorikan baik dengan persentase 80,19%. Hal ini berarti bahwa konsep manajemen berbasis sekolah sesuai dengan yang diharapkan yaitu untuk memperbaiki kinerja sekolah agar dapat mencapai tujuan secara optimal, efektif dan efisien.
Berdasarkan hasil penelitian penulis menyarankan 1) Kepada guru untuk lebih memperdalam dan menguasai konsep manajemen berbasis sekolah serta harus berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas. 2) Kepada kepala sekolah untuk memiliki perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan, melakukan fungsinya sebagai manajer sekolah dalam meningkatkan proses belajar mengajar serta melakukan tukar pikiran dan studi banding antar sekolah untuk menyerap kiat-kiat kepemimpinan dari kepala sekolah yang lain. 3) Kepada sekolah untuk mengidentifikasi dan menata ulang pengadaan sarana prasarana sekolah, dan harus lebih mengoptimalkan bentuk operasional husemas di bidang sarana akademik agar jumlah sarana yang tersedia (alat-alat dan media pengajaran seperti komputer) sesuai kebutuhan siswa.
+/- Download Here

tinyurl.com/y8duq26

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

1 comments

uii profile said... @ June 25, 2012 at 11:30 PM

Terimakasih Infonya
artikel yang bagus,
sangat bermanfaat..
Perkenalkan saya mahasiswa Fakultas Ekonomi di UII Yogyakarta
:)
twitter : @profiluii :)

Post a Comment